Jumat, 01 Juni 2012

Membangun Moral Bangsa Dengan Nilai Pancasila


 

Jakarta (1/6) Tepat 67 tahun sudah sejak Pidato Bung Karno tanggal 1 Juni 1945 telah berlalu. Sejak itu ditetapkanlah tanggal 1 juni merupakan hari lahirnya Pancasila yang menjadi salah satu momen penting dalam sejarah bangsa Indonesia dalam menentukan ideologi Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang baru saja lahir. Kukuhnya Pancasila merupakan hasil kerja keras para pemimpin bangsa dalam menghadapi kondisi pluralitas bangsa Indonesia yang terdiri atas berbagai macam unsur, baik suku bangsa, adat istiadat maupun agama yang berbeda-beda. Nilai-nilai universalitas Pancasila makin tampak ketika menghadapi pluralitas masyarakat Indonesia ketimbang harus mengadopsi kelompok agama tertentu.


Belakangan ini terjadi dekadensi dalam pengamalan nilai-nilai Pancasila mulai dari berbagai permasalahan moral bangsa yang dapat kita saksikan dari berbagai media masa baik cetak, elektronik maupun online yang semakin maraknya pelaku asosila, amoral, pengkhianat amanat rakyat dan lainnya yang sangat jelas bertentangan dengan nilai-nilai yang diajarkan oleh agama yang dianut bangsa indonesia, apalagi nilai-nilai yang dilahirkan oleh negara yaitu 4 pilar kebangsaan yang menjadi acuan dalam menjalani kehidupan sehari-hari.

Maka menyambut hari pancasila ini menjadi sebuah budaya yang baik untuk dijadikan refleksi dan evaluasi atas perjalanan bangsa yang semakin dewasa ini, perjalanan perjuangan dan pertahanan bangsa tentu membutuhkan pengorbanan yang tidak mampu dihitung dengan apapaun, dengan jiwa kesatria dan kerjasama anatar seluruh elemen masyarakat dalam memperjuangkan bangsa sehingga memiliki nama dan diakui oleh bangsa – bangsa lain di dunia, tentu dengan nilai-nilai yang mendasarinya dan menjadi motivasi dalam memperjuangkan bangsa yang bermartabat.

Nilai yang diperjuangan dan menjadi landasan perjuangan bangsa indonesia tercantum dalam pancasila, yang menjadi dasar bangsa indonesia, karena nilai menjadi sesuatu yang berharga, bermutu, yang mampu menunjukkan kualitas, dan berguna bagi masyarakat indonesia dalam memperjuangkan dan mempertahankan persatuan bangsa indonesia. Pancasila sebagai ideologi terbuka memiliki nilai dasar yang sangat penting seperti pada Alinea 4 dinyatakan sebagai nilai dasar yang bisa diberikan sebagai acuan dalam memiliki nilai dalam kehidupan sehari-hari.

Pancasila berisi lima sila yang pada hakikatnya berisi lima nilai dasar yang fundamental. Nilai-nilai dasar dari pancasila tersebut adalah nilai Ketuhanan Yang Maha Esa, Nilai Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab, nilai Persatuan Indonesia, nilai Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalan permusyawaratan/perwakilan, dan nilai Keadilan sosial bagi seluruh rakyat indonesia. Dengan pernyataan secara singkat bahwa nilai dasar Pancasila adalah nilai ketuhanan, nilai kemanusiaan, nilai persatuan, nilai kerakyatan, dan nilai keadilan.

Dimana nilai Ketuhanan Yang Maha Esa Mengandung arti adanya pengakuan dan keyakinan bangsa terhadap adanya Tuhan sebagai pencipta alam semesta yang harus disembah sebagai bentuk tanggungjawab. Dengan nilai ketuahanan menyatakan bahwa bangsa indonesia merupakan bangsa yang religius bukan bangsa yang ateis. Nilai Kemanusiaan yang adil dan beradab mengandung arti kesadaran terhadap sikap dan perilaku sesuai dengan nilai moral dalam hidup bersama atas dasar tuntutan agama dan sumber hukum negara kita dengan memperlakukan sesuatu sesuai dengan landasan hidup manusia dalam beragama dan bernegara.

Nilai persatuan indonesia mengandung makna usaha ke arah bersatu dalam persatuan rakyat untuk membina rasa nasionalisme dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia. Persatuan Indonesia memiliki arti untuk menjaga persatuan terhadap segala ragam budaya dan kehidupan masyarakat indonesia sekaligus mengakui dan menghargai terhadap keanekaragaman tersebut.

Nilai kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan mengandung makna suatu pemerintahan yang dijalankan melalui alur dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat dengan cara musyawarah melalui lembaga-lembaga perwakilan. Nilai Keadilan sosial bagi seluruh rakyat indonesia mengandung makna sebagai dasar sekaligus tujuan mulia dan hakiki, yaitu tercapainya masyarakat Indonesia Yang Adil dan Sekajahtera secara lahir dan batin.

Sehingga dengan menerepkan seluruh ajaran agama berarti sudah menjalankan keseluruhan bentuk pengamalan dari nilai-nilai pancasila berfungsi sebagai daya dorong/motivator bangsa indonesia yang memiliki hakikatn/nilai dasar fundamental dalam berbangsa maupun bermasyarakat yang disebut nilai Ke-Indonesiaan.

Hidayat: Laut, Pantai, Sungai, Danau Milik Publik


 Headline

PKSTapos__Jakarta, Calon Gubernur DKI Jakarta Hidayat Nur Wahid mendukung jika pantai Ancol bebas biaya. Dengan begitu semua lapisan masyarakat dapat menikmatinya.

"Iya memang mestinya di dunia mana pun yang namanya laut, pantai, sungai dan danau itu adalah milik negara dan pasti juga milik publik yang harus bisa diakses dengan gratis oleh publik," ujar Hidayat kepada INILAH.COM.

Dirinya menyayangkan di negara Indonesia pada umumnya bukan hanya di Ancol, banyak tempat di Indonesia yang menjadikan pantai atau laut sebagai komersialisasi, di kavling untuk hotel, villa dan sebagainya. "Hingga akhirnya menjadi areal bisnis, padahal kan mereka itu tidak pernah membeli pantainya tetapi tanahnya yang dibeli. Saya sangat setuju bahwa yang namanya laut itu harus bisa diakses oleh publik," terangnya.

Oleh karena itu, lanjut Hidayat, dirinya akan melakukan pengkajian terhadap keputusan-keputusan yang ada terkait dengan PD Ancol, mengkaji dari semua sisi tentang bagaimana kemarin ceritanya, persoalannya apa harus dikenakan biaya.

"Jadi kata kuncinya itu kita harus mengembangkan lebih banyak lagi tempat rekreasi bagi warga Jakarta, pantai yang bisa diakses kemudian setu-setu yang kita harus kaji juga termasuk ruang interaksi di setiap kelurahan, GOR yang berfungsi sebagai olah raga gratis itu harus kita maksimalkan termasuk pantai-pantai mudah-mudahan bisa diakses oleh warga. Pantai Ancol kemudian bisa diakses dengan publik, karena Ancol itu kan ada dua jadi perlu dikaji lagi," papar Hidayat.

Ketika Kalung Fatimah Membuat Rasulullah Marah



Kehidupan Fatimah bersama Ali sangatlah sederhana. Mereka tak memiliki perabot rumah tangga kecuali alat memasak saja. Mereka tak memiliki kasur kecuali sebuah "kasur" tipis terbuat dari jerami gandum yang dibungkus kain kasar. Fatimah pun tak memiliki perhiasan kecuali sebuah kalung emas yang sudah lama dan jarang dikenakannya.

Suatu hari Fatimah datang kepada Rasulullah SAW. Wanita mulia bergelar Az-Zahra itu mengucap salam dan meminta izin untuk masuk. Setelah Rasulullah mempersilakan, betapa bahagianya Fatimah berada di dekat sang ayah. Keduanya berbincang dengan ceria. Wajah keduanya berbinar bahagia, laksana terobatinya kerinduan karena lama tak berjumpa.

Tiba-tiba, air muka Rasulullah berubah ketika beliau tahu Fatimah mengenakan kalung emas di lehernya. Fatimah mengerti bahwa ayahnya sedang marah.

Fatimah tak kuasa berkata apa-apa. Ia keluar dari kediaman Rasulullah dengan kesedihan yang menyesakkan dada. Selama ini Fatimah tak rela ada orang yang membuat Rasulullah marah atau sedih. Namun kini, dirinya yang membuat sang Nabi berduka? Gara-gara kalung butut itu?

Fatimah tak perlu waktu lama untuk menimbang. Kalung itu tak boleh ia pakai, tak boleh ia miliki lagi. Lalu dikemanakan? Apakah dijual dan dibelikan budak agar bisa membantunya? Karena selama ini Fatimah sendiri yang mencuci, memasak dan menggiling gandum. Sebenarnya fisik Fatimah lelah. Namun Fatimah khawatir Rasulullah tidak berkenan. Apalagi budak itu nanti akan mengingatkan Rasulullah pada kalung itu.

Akhirnya Fatimah memutuskan menjual kalung itu. Uangnya ia belikan budak. Tetapi bukan untuk membantunya. Setelah dibeli, budak itu segera dimerdekakannya.

Kini Fatimah kembali menghadap Sang Nabi. Sebelum Rasulullah bertanya, Fatimah mendahuluinya dengan memberikan laporan.

"Aku telah menjual kalung itu," Fatimah berkata kepada Rasulullah yang serius mendengarkannya, "dan uangnya kupergunakan untuk membeli budak yang kemudian kumerdekakan."

Seketika wajah Sang Nabi berseri-seri. Keceriaan dan kebahagiaan kembali menghiasi wajah Rasulullah yang suci.

Demikianlah sebuah fragmen dalam kehidupan Fatimah, kehidupan keluarga Nabi. Rasulullah SAW mendidik keluarganya untuk hidup sederhana. Menjadikan keluarganya sebagai teladan dalam segala hal, termasuk kesederhanaan.

Demikianlah pemimpin terbaik mengambil jalan hidup, dan memastikan jalan hidup itu juga ditempuh keluarganya.

Karenanya, Rasulullah dan keluarganya sangat dicintai sahabat dan umatnya. Tak pernah ada dalam sejarah ada sahabat yang iri dengan Rasulullah dan keluarganya dalam masalah dunia. Tak pernah ada orang yang mempertanyakan kekayaan Rasulullah dan keluarganya, karena mereka bukanlah orang kaya, justru hidupnya sangat sederhana. Tak pernah ada orang yang curiga dengan keikhlasan Rasulullah dalam memimpin dan berjuang, karena mereka tahu Rasulullah tak pernah mengambil keuntungan pribadi atau memperkaya keluarganya. Mereka tsiqoh kepada Rasulullah.

Jika Hasan Al Banna mengatakan bahwa tsiqoh adalah rasa puasnya seorang jundi kepada qiyadahnya dalam hal kemampuan dan keikhlasan, sungguh para sahabat sangat puas dengan Rasulullah. Puas dengan kepuasan yang sempurna. Tsiqoh dengan ke-tsiqoh-an yang sempurna.

Ke-tsiqoh-an seorang jundi, seorang anggota, seorang rakyat, kepada pemimpinnya salah satunya ditentukan oleh faktor itu: gaya hidup dan sikapnya soal harta untuk diri dan keluarga. Bahkan kurang apa pemimpin sehebat dan semulia Utsman bin Affan? Beliau dermawan dan hidup sederhana. Tetapi karena keluarga besarnya, yang ia percaya membantunya menjadi pejabat-pejabat negara, bergaya hidup mewah, Utsman terkena fitnah.

Lalu jika pemimpin sekarang tidak sebaik Utsman, bisakah ia selamat dari fitnah yang sama, bahkan lebih besar? Itulah susahnya menjadi pemimpin. Tetapi itu pula jalan keutamaan yang luar biasa: menjadi pribadi teladan dan mengkondisikan keluarga menjadi teladan pula, termasuk dalam kesederhanaan. Sederhana di zaman sekarang tentu tidak dituntut sampai pada level kesederhanaan Rasulullah dan Fatimah. Siapa yang mampu sehebat itu? Tetapi cukuplah jika ia sederhana dalam ukuran zaman sekarang; tidak bergaya hidup mewah dan tidak glamour dalam kekayaan di tengah rakyat yang terhimpit kesusahan.