Tampilkan postingan dengan label fahri hamzah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label fahri hamzah. Tampilkan semua postingan

Selasa, 21 Mei 2013

"TEMPO, Apa yang Kau Cari?" | by @Fahrihamzah

Teganya TEMPO mencari makan dengan memfitnah orang... apa sanggup kalian makan bangkai?

Tadi pagi karena TEMPO masuk meja kerja saya, saya baca sekilas... isinya fitnah hampir semua.

TEMPO nampaknya mendapat bocoran lanjutan hari ini... dari mana? Darimana lagi...?

TEMPO berusaha memfitnah PKS dengan cara yg sangat kasar... sangat tdk enak dan tidak perlu.

Kami akan tahan dengan fitnah kalian.. tapi kalian tak akan tahan dengan perasaan berdosa.

Tak perlu kita bicara agama, karena dosa kalian pada etika jurnalisme pun pasti membuat kalian tersisih.

Dalam agama, fitnah itu lebih kejam dari pembunuhan dan kalian membunuh dengan cara yg sadis.

Sadisme jurnalisme TEMPO memprihatinkan.. saya yakin gunawan muhammad yg mem-blokir saya mulai tua dan sentimentil.

Kita tak bisa lagi berdiskusi secara intelek sebab hak untuk didengar telah ia matikan.

Orang2 ini memang sinis sekaligus cemburu pada kami yang memakai sarung karena partai kami lebih eksis dari mereka.

Mulailah mereka berkampanye agar kami ditinggal dan agar kami dinista... tapi media beginian tinggal menghitung hari.

TEMPO mengirim anak2 muda yang mengaku kaderku sekedar untuk mendapat konfirmasi.. ini mereka sebut hak jawab.

Aku bilang, bagaimana mengkonfirmasi plot yang sudah ditulis tuntas? Dan ia pergi..

TEMPO memang korban industri media yg dibuka. Dulu dia menikmati eksklusifitas ijin yg terbatas.

Sekarang TEMPO hampir kalah. Industri ini saling mematikan.. ada social media lagi.

TEMPO terpaksa menjadi majalah dan koran Gossip... sensasi lebih penting dari substansi.

Jurnalismenya minim sastra kejujuran. Menghasut bagian dari pilihan dan berdusta hanya jadi bagian dari.. salah kutip rutin.

Seperti kita menitipkan Demokrasi pada partai politik... kita juga menitipkannya pada media.

Seperti kita ingin parpol berbenah kita juga berharap media berbenah... media adalah kekuatan penting dlm demokrasi.

TEMPO harusnya jadi contoh karena sejarahnya yg panjang... tapi sudah melenceng.

Saya tahu orang2 TEMPO gak akan baca tulisan saya karena mereka mem-block saya.

Semoga ada yang bisa menyampaikan... terutama ke mas gun... yang dulu saya kagumi.

end.
*pkspiyungan.org

Senin, 13 Mei 2013

Kami Siap Melawan KPK dengan Perang Opini

 
Fahri Hamzah (Liputan6.com/Danu Baharuddin)
Jakarta - Partai Keadilan Sejahtera (PKS) mengecam cara KPK dalam membangun opini publik yang menggambarkan seolah-olah partai pimpinan Anis Matta ini merupakan sarang penjahat. PKS pun dengan tegas menyatakan kesiapannya untuk melakukan perang opini dengan KPK.

"Ini sudah keluar dari koridor penegakan hukum. Kami siap melawan KPK dengan perang opini," tegas Ketua DPP PKS Fahri Hamzah di kantor DPP PKS, Jakarta, Minggu (12/5/2013).

Dengan sejumlah pelanggaran dan rekayasa yang diduga dilakukan, Fahri menilai, KPK telah salah langkah. Hukum harus menyasar orang yang jahat, bukan mencari kesalahan orang.

"Kami dilarang banyak omong oleh KPK. KPK seharusnya jangan banyak omong. KPK 10 tahun lebih hanya menciptakan keributan," ucapnya.

Dia pun menduga ada segelintir orang yang ingin mendramatisir kasus korupsi Luthfi. "Kasus LHI adalah kasus pertama. PKS tak pernah tersentuh kasus seperti ini. Ada orang yang ingin mendramatisir. Memasuki rumah tangga kami dengan niat yang tidak baik," pungkasnya.

Kamis, 17 Mei 2012

Fahri Hamzah: KPK Gagal Berantas Korupsi Sistemik

PKSTapos__ [JAKARTA] Hampir satu dekade berdiri, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) belum menyentuh persoalan pemberantasan korupsi yang sistemik.

Karena itu, sudah saatnya semua pihak melakukan evaluasi terhadap lembaga ad hoc ini, mengevaluasi atas kerja yang selama ini hanya mendapat tepukan tangan publik.

Hal itu dikemukakan anggota DPR RI dari Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (FPKS) Fahri Hamzah saat meluncurkan bukunya berjudul  “Demokrasi, Transisi, Korupsi” di Press Room DPR RI, Jakarta, Selasa (15/5).

“Buku ini saya tulis sebagai pertanggungawaban atas kehebohan yang timbul beberapa bulan lalu,  ketika saya melontarkan ide pembubaran KPK. Mari kita bubarkan KPK yang tanpa prestasi signifikaan, namun mari kita jaga KPK yang mau belajar dari kesalahan dan melakukan evaluasi diri secara institusional,” kata Fahri.

Dalam buku yang keempatnya sejak menjadi anggota DPR ini, Fahri menawarkan solusi pendekatan sistemik dalam pemberantasan korupsi.

Menurutnya, jangan pandang remeh aspek pencegahan dari pemberantasan korupsi.  “Efek jera yang diharapkan dari penangkapan dan pemberitaan di media massa, nyatanya semu belaka. Karena itu, pencegahan mesti dilihat secara lebih luas, tidak semata sosialisasi dan kampanye belaka,” katanya.

Fahri pun mengajak KPK menelisik lebih cermat segenap peraturan perundang-undangan terkait korupsi yang berlaku. “Hilangkan wilayah abu-abu. Minimumkan kemungkinan diskresi, tutup peluang negosiasi dan penyelesaian di bawah meja dan libatkan seluruh elemen masyarakat. Itu yang menjadi inti dari buku ini,” katanya.

Ditambahkannya, kerja sistemik untuk mencegah  korupsi kerap bersumber dari peraturan perundang-undangan yang jelas dan membutuhkan orkestrasi dalam skala nasional.

“Kita berharap KPK menjadi dirigen perhelatan besar ini. Ajak Presiden, yang dalam kampanyenya akan memimpin langsung pemberantasan korupsi, perkuat dan libatkan institusi kepolisian dan kejaksaan. Jika tidak, waktu dan tenaga nasional akan habis untuk bertepuk tangan melihat orang-orang digiring masuk ke bui,” katanya.

*suarapembaruan 15/05/201