JAKARTA– Partai Keadilan Sejahtera (PKS) berjanji akan terus bekerja
bersama pemerintah kendati mayoritas parpol anggota Setgab Koalisi tak
lagi menganggap keberadaan partai pimpinan Luthfi Hasan Ishaaq itu.
Ketua Fraksi PKS DPR Mustafa
Kamal mengatakan, pihaknya tidak mau terjebak dalam prokontra serta
perdebatan politik soal keberadaan PKS dalam koalisi. Dia juga tidak mau
menanggapi pernyataan Sekretaris Setgab Koalisi Syarief
Hasanbeberapawaktulaluyang mengungkapkan bahwa PKS
tidakakanpernahlagidiundang rapat koalisi hingga 2014 meski tiga orang
kadernya masih bercokol di kabinet.
“Selama Presiden SBY (Susilo
Bambang Yudhoyono) selaku ketua Setgab Koalisi belum memberi pernyataan
resmi soal PKS, kami tetap dalam posisi awal.Hingga kini semua berjalan
normal dan komunikasi pun berjalan baik,”kata Mustafa. Meski begitu,
Mustafa mengakui bahwa PKS pun di sisi lain tidak terlalu percaya diri
(PD) soal posisinya di koalisi. Dia hanya meyakini bahwa dinamika yang
terjadi pascasidang parpiurna DPR tentang RUU APBN-P dengan isu krusial
rencana kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) bisa menjadi energi
positif.
“ Energi positif bagi soliditas PKS dalam
keikutsertaannya bekerja dengan pemerintah. Hingga saat ini kami terus
menjaga komitmen untuk bekerja sungguh-sungguh, termasuk menopang
kinerja pemerintah,” ujar Mustafa. Dia menekankan, PKS tidak pernah
menggunakan istilah posisi aman atau terancam dalam koalisi.Apa pun yang
terjadi, PKS akan fokus mengawal kinerja pemerintah demi kesejahteraan
rakyat. Sementara itu,Wakil Sekretaris Jenderal DPP PKS Mahfudz Siddiq
mengaku heran dengan sikap partai-partai anggota Setgab Koalisi yang
beberapa waktu lalu sibuk meributkan rencana pergantian tiga menteri
dari PKS.
Menurut dia, masih banyak hal krusial yang bisa
dibicarakan di Setgab Koalisi ketimbang berspekulasi apakah ketiga
menteri dari PKS akan diganti serta menggunjingkan figur-figur calon
pengganti mereka.Tiga menteri dari PKS adalah Menteri Komunikasi dan
Informatika (Menkominfo) Tifatul Sembiring, Menteri Sosial (Mensos)
Salim Segaf Al Jufri, dan Menteri Pertanian (Mentan) Suswono.
“Pemerintah harusnya fokus menjawab persoalan harga kebutuhan pokok yang
sudah telanjur naik meski kenaikan harga BBM batal. Itu yang harus
dipikirkan, mengapa bisa terjadi.
Bukan ribut-ribut menteri
baru,”sesalnya. Dia menganggap,isu Setgab mengeluarkan PKS dari koalisi
adalah urusan elite politik dan tidak penting untuk rakyat. Yang
terpenting saat ini, kata Mahfudz,bagaimana upaya pemerintah menurunkan
kembali harga-harga bahan pokok yang telanjur naik. Sementara itu,
pengamat politik dari Universitas Indonesia (UI) Iberamsjah memandang,
bila benar PKS akan didepak dari koalisi, pemerintah akan kehilangan
sebuah partai yang dapat bersikap kritis dan objektif dalam memandang
berbagai kebijakan dan permasalahan.
“Ini artinya sebuah kerugian
bagi koalisi. Sikap kritis ini menandakan PKS lebih berkualitas
dibandingkan partai lain di koalisi, selain Partai Golkar. Di samping
itu, PKS telanjur mendapatkan simpati dari rakyat dalam menyuarakan
aspirasi di parlemen,”terang Iberamsjah. Dia menegaskan,jika Demokrat
merasa akan leluasa bermanuver di koalisi dengan keluarnya PKS,itu
adalah pikiran picik. Setgab juga akan kekurangan banyak suara dalam
menentukan kebijakan di parlemen jika PKS dikeluarkan.
Peneliti
senior Central for Strategic and International Studies (CSIS) J
Kristiadi menyarankan para menteri dari PKS sebaiknya berinisiatif
mundur untuk menghindari anggapan PKS partai oportunis. “Kecuali kalau
PKS ada agenda politik lain terhadap koalisi atau pemerintahan. Silakan
tetap di dalam sambil mematangkanagendanya,” katanya.
sumber:
seputar indonesia