Tampilkan postingan dengan label anggota. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label anggota. Tampilkan semua postingan

Minggu, 03 Juni 2012

PKS Dorong KPK Lebih Fokus Pada Pencegahan



PKSTapos__ Denpasar, Partai Keadilan Sejahtera (PKS) mendorong Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) lebih fokus pada program pencegahan tindak pidana korupsi. "Jangan hanya penindakan, KPK juga harus fokus pada pencegahan," kata Wakil Sekjen DPP PKS Fahri Hamzah, di Denpasar, Sabtu malam (2/6).

Menurutnya, pencegahan lebih mulia daripada penindakan. Apalagi pencegahan itu, lanjut dia, telah diamanatkan dalam Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 yang diperbarui dengan UU Nomor 20/2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.

Namun dia melihat selama ini KPK lebih mengutamakan penindakan daripada pencegahan. "Memang kalau penindakan banyak mengundang tepuk tangan. Tapi ingat, penindakan itu banyak dimanfaatkan untuk kepentingan tertentu," katanya dalam Dialog Kebangsaan: Demokrasi, Transisi, dan Korupsi yang dihadiri ratusan kader dan simpatisan PKS se-Provinsi Bali itu.

Lebih lanjut Fahri berpendapat bahwa penindakan lebih bersifat destruktif sehingga program pemberantasan korupsi tidak berjalan efektif. Apalagi yang terkena tindakan KPK lebih banyak akibat faktor kesalahan prosedur.

"Dari situlah kami dapat menyimpulkan bahwa hukum di Indonesia penuh dengan ketidakjelasan. Penindakan seharusnya jadi senjata pamungkas, sedangkan pencegahan sebagai alat untuk membangun sistem sehingga kalau sistem itu berjalan efektif, maka tidak ada lagi tindakan korupsi," kata anggota Komisi VI DPR itu.

Ia membandingkan perilaku koruptif pada era 1970-an yang dampaknya tidak sebesar era Reformasi atau setelah disahkannya UU Nomor 31/1999 tentang Tipikor.

"Dulu korupsi memang betul-betul untuk mempercepat program pembangunan karena pembangunan tidak akan berjalan akibat hambatan birokratis," kata mantan Ketua Umum Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) kelahiran Sumbawa, Nusa Tenggara Barat, itu.

Justru setelah ada UU Tipikor, kasus korupsi makin marak. "Hal ini salah satu bukti sistem tidak jalan akibat mengutamakan penindakan," kata Fahri.

Meskipun demikian, dia sangat setuju pelaku korupsi diganjar dengan hukuman seberat-beratnya dan penindakannya pun tidak terkesan tebang pilih.

"Jangan beraninya pada kasus kecil, tapi kasus besar seperti dana talangan Bank Century senilai Rp6,7 triliun juga harus ditindak. KPK itu ibarat bazooka, tidak tepat untuk membunuh nyamuk," kata Fahri bertamsil.


Kamis, 03 Mei 2012

Profil Anis Matta, Sang Aktivis..






Tentang M. Anis Matta yang lahir di Bone, Sulawesi Selatan, 28 September 1968. Sejak kecil punya minat baca yang besar. Bahkan, liburan sekolah tidak diisi dengan kegiatan lain, kecuali membaca. Dari pagi hingga malam. Ustadz muda ini mengaku tidak pernah punya cita-cita muluk. Tapi, terobsesi punya perpustakaan besar. Dan, buku yang paling berpengaruh pada dirinya adalah Berpikir dan Berjiwa Besar. Ia punya dua buku monumental. Biar Kuncupnya Mekar Menjadi Bunga yang diterbitkan Pustaka UMMI dan Risalah Pergerakan, terjemahan Risalah Ta’lim-nya Hasan AI-Banna. Selain, itu ada beberapa buku lagi yang ikut menyumbang perkembangan pemikiran Islam di Indonesia. Anis meraih gelar S1 di bidang syanat Islam dari LIPIA pada tahun 1992. Pada tahun 2001 ikut pendidikan di LEMHANNAS. 


Anis Matta diputuskan sebagai Wakil Ketua DPR berdasarkan Rapat Badan Pengurus Harian Dewan Pengurus Pusat PKS Agustus lalu. Anis Matta dinilai punya pengalaman baik sebagai anggota DPR maupun kiprah di internal PKS karena sudah tiga periode menjadi Sekretaris Jenderal.Anis Matta juga tidak punya masalah hukum. Pria, 41 tahun lalu ini juga duduk di Majelis Hikmah PP Muhammadiyah. 

Menjabat sebagai  Wakil ketua DPR RI hal yang paling ia harapkan adalah adanya sumber daya infrastruktur yang kuat akan percepatan pembangunan. Ia mengusulkan, infrastruktur itu dapat berupa perpusatakaan semacam perpustakaan Kongres Amerika Serikat. Dengan adanya perpustakaan, yang diimpikannya terbesar di dunia, maka anggota DPR tidak perlu lagi melakukan banyak studi banding ke luar negeri. 

Bagi aktivis masjid kampus, nama Anis Matta tentu tidak asing lagi. Selain  dikenal sebagai aktivis partai politik,  juga dikenal sebagai penulis yang cukup produktif dalam menelurkan karya. Karya-karyanya tersebar dibeberapa media Islam seperti Saksi, Tarbawi, Ummi dan Suara Hidayatullah. Karya-karya yang tercecer diberbagai media Islam tersebut sebagian besar telah dikumpulkan menjadi sebuah buku,

Berbicara dalam konteks Indonesia, Anis Mata berpendapat bahwa gerakan-gerakan pemikiran Islam yang dibangun sebagai kekuatan pro sekuler didalam basis-basis pertahanan budaya Islam, baik yang dulu bernama gerakan pembaharuan maupun yang reinkarnasinya kini bernama Islam Liberal atau Islam kiri, tidak pernah sanggup membawa konsep-konsep pemikiran yang orisinil, komprehensif, berlandaskan metodologi yang kokoh dan output empiris yang sukses. Sementara, permasalahan lain dari gerakan sekuler seperti Islam Liberal atau Islam kiri adalah ketergantungan mereka akan dukungan politik, media dan dana dari Barat.

Anis Matta menyebut gerakan semacam itu dengan istilah “pepesan kosong”,  doyan bermain retorika, tidak produktif dan lebih berorientasi mengganggu apa yang mereka sebut sebagai gerakan “Islam Fundamentalis”, ketimbang membangun sebuah dunia nyata dari gagasan besar yang lengkap.

* * * * *

Biodata Singkat M. Anis Matta

No. Anggota DPR RI: A-96
Tempat Lahir: Bone
Tgl Lahir: 07-12-1968
Agama: Islam

Riwayat Pendidikan:
1 SD Inpres Welado 1980
2 SMP Darul Arqam 1983
3 SLTA Darul Arqam 1986
4 LIPIA 1992
5 KSA IX Lemhanas 2001

Riwayat Pekerjaan:
1 Komisaris PT Indo Media Green Pages
2 Preskom PT Manara Inti Tijara
3 Direktur Pusat Studi Isalam Almanar
4 Dosen Agama Islam FE UI Program Extension 1996-1998

Riwayat Organisasi:
1 Anggota Majelis Hikmah PP Muhamadiyah 2000-2005
2 Anggota Ikatan Alumni Lemhanas 2001 - 2006

© Sekretariat Jenderal DPR RI