Jumat, 22 Maret 2013

Wawancara Sekjen PKS : Tobat Nasional, Jangan Diartikan PKS Sudah Makin Parah.


Bertobat bukan berarti PKS makin bobrok
Sekretaris Jenderal Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Muhammad Taufik Ridho ( merdeka.com )

Sekjen PKS M.Taufik Ridho dengan ramah menerima merdeka.com Faisal Assegaf dan juru foto Muhammad Luthfi Rahman yang  datang belakangan di ruang kerjanya lantai dua. Tidak ada lambang atau bendera partai di ruangan berukuran sekitar 3x5 meter persegi itu. Hanya ada meja kerja, sofa, dan satu televisi berlayar datar ukuran besar.

Taufik Ridho pun kelihatan santai dengan kaus berkerah. Sepanjang wawancara hampir setengah jam itu, dia berzikir sambil jemari tangan kanannya sibuk memilin butir-butir tasbih berwarna coklat.
Berikut penuturan Taufik Ridho yang meladeni pertanyaan ditemani segelas teh hangat dan stafnya bernama Jatmiko, Kamis (21/3).

Kapan PKS menggelar tobat nasional seperti disebut Anis Matta dalam pidato pengukuhannya sebagai presiden PKS?

Tobat nasional itu tidak diharuskan dalam sebuah perhelatan. Itu bagian dari introspeksi diri (muhasabah). Muhasabah ini sebenarnya sudah harus ada dalam diri tiap muslim, cuma dipicu oleh gerakan tobat nasional. Didalam internal kader, ada program disebut pemindaian spiritual untuk menyegarkan kembali spiritual kita. Ada bacaan-bacaan tertentu harus dibaca dalam pemindaian spiritual itu. Program ini sudah selesai Jadi tidak harus diwacanakan dalam sebuah acara, tapi lebih ke arah substansi didapatkan dari situ.

Prakteknya seperti apa?

Tiap individu harus melaksanakan itu (bertobat), tidak ada semacam ritual khusus. Tapi kita mencoba membaca beberapa surat, seperti Al-Fatihah,m Al-Baqarah, Yasin, Al-Waqiah, Al-Muawizatain (Al-Ahad, Al-Falaq, dan Annas) dibaca dalam satu kali duduk, sekitar tiga jam untuyk menguji sejauh mana kekuatan tiap kader dan itu sudah dilaksanakan.

Berapa lama program itu dijalankan?

Semua kader disarankan melaksanakan itu.

Lewat DPC-DPC?

Tidak, kita tidak mengumpulkan orang.

Apakah seruan tobat nasional ini menandakan kondisi dalam PKS sudah begitu bobrok?

Tobat itu jangan diartikan orang itu bersalah. Rasulullah bersabda saya beristigfar satu hari 70 kali, dalam rilwayat lain lebih dari seratus kali. Rasulullah sudah dijamin masuk surga dan diampuni dosanya masih mau melakukan itu. Rasulullah bahkan sampai menangis hingga jenggotnya basah.
Orang-orang bertobat itu dicintai Allah (seraya membaca ayat Alquran soal itu). Jangan diartikan PKS sudah makin parah. Tiap manusia harus melakukan itu sebagai bagian dari introspeksi diri untuk memperkuat ketahanan orang itu.

Apakah seruan tobat nasional itu sebagai upaya memperbaiki citra partai secara internal dan eksternal?

Mau ditafsirkan seperti itu sama orang lain, terserah. Tetapi kita punya tujuan sebagai konsolidasi para kader, bukan hanya secara kinerja tapi juga spiritual.

Jadi tidak ada keresahan di kader akar rumput?

Saya lihat tidak ada. Di kampus-kampus juga nggak ada.

Apakah kasus dugaan suap impor daging sapi ini telah memperburuk soliditas partai?

Saya pikir masyarakat akan makin melihat apakah ini betul-betul kasus murni hukum atau politik. Yang jelas, ketika kita turun ke bawah kader-kader itu kian solid. Kita mencoba mengukur kesolidan dan kekuatan kader dengan apakah bisa memenangkan pemilihan kepala daerah di Jawa Barat dan Sumatera Utara. Terbukti mereka bisa.

Tetapi menurut sejumlah survei, tingkat elektabilitas partai menurun?

Itu sebatas survei dan buktinya (kita) menang.

Namun itu baru dua pemilihan?

Dilihat saja nanti, dibuktikan saja. Kesolidan itu harus dibuktikan dengan berbagai alat ukur. Misalkan, orang lain mengatakan itu pilkada, lain. Tapi kalau kalah yang babak belur PKS. PKS enak, seksi digebuk oleh media.

Bagaimana upaya partai meredam gejolak kader di bawah?

Kita kini membagi dua, kasus ditangani secara hukum dan struktur berfokus pada menangani realitas berkembang. Ketika kita turun ke bawah, mereka bukan tanya kasus, tapi apa akan kita lakukan ke depan. Artinya, pemikiran mereka tidak terjebak dengan apa yang terjadi.