Tampilkan postingan dengan label berita duka pks. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label berita duka pks. Tampilkan semua postingan

Selasa, 22 Mei 2012

Setahun Wafatnya Ustadzah Yoyoh Yusroh

Tak terasa sudah setahun PKS kehilangan kader terbaiknya, Ustadzah Yoyoh Yusroh. Beliau wafat meninggalkan duka yang dalam, bukan saja bagi keluarga dan PKS namun juga rakyat Indonesia. Semoga kita dapat meneladani keshalihan beliau. Berikut kutipan media setahun yang lalu: 

 1533502

JAKARTA. Fraksi PKS DPR RI kehilangan salah satu legislator terbaiknya yaitu Yoyoh Yusroh. Ia meninggal dunia dalam kecelakaan di Tol Palikanci, Cirebon, Jawa Barat, Sabtu dini hari (21/5).

Yoyoh Yusroh merupakan salah satu tokoh pendiri PKS dan sudah menjadi anggota DPR sejak tahun 1999. “Fraksi PKS kehilangan salah seorang legislator terbaiknya, salah seorang tokoh perempuan yang sejak awal ikut mendirikan partai dan berkontribusi besar dalam perkembangan partai” ungkap Ketua Fraksi PKS Mustafa Kamal, di Kalibata, Sabtu (21/5).

Yoyoh Yusroh lahir di Tangerang 14 November 1962. Ibu 13 orang anak ini merupakan Anggota DPR dari Daerah Pemilihan Banten III (Kota/Kabupaten Tangerang). Di PKS, Ustadzah Yoyoh, begitu beliau biasa disapa, merupakan panutan bagi para kader-kader muda PKS karena kiprahnya sebagai Ibu Rumah Tangga sekaligus Legislator Perempuan yang aktif menjalankan tugasnya sebagai wakil rakyat.

Selain di PKS, Yoyoh juga aktif sebagai anggota Dewan Pakar Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) Periode 2005-2010 di bidang Pemberdayaan Perempuan, Anak dan Lansia. Selain itu, Yoyoh juga mendapatkan penghargaan sebagai Mubalig Nasional dari Departemen Agama pada Tahun 2001.
“Ustadzah Yoyoh adalah panutan bagi kami kader-kader muda PKS. Beliau adalah ibu dari 13 orang anak yang mampu mengelola rumah tangganya dengan baik, sekaligus juga menjalankan tugas dengan sebaik-baiknya sebagai Legislator,” ungkap Kamal.

Selain di Indonesia, Yoyoh Yusroh juga dikenal sebagai politisi yang aktif dalam membela Hak Asasi Manusia di level Internasional. Yoyoh dikenal sebagai Legislator yang gigih memperjuangkan kemerdekaan Palestina, di mana ia merupakan sedikit dari Politisi Indonesia yang pernah menembus blokade Israel di Gaza dan melihat langsung kondisi masyarakat Palestina di sana.Selain itu sejumlah penghargaan atas kontribusi internasional pun pernah diterimanya, seperti International Muslim Women Union (IMWU) pada tahun 2000 dan 2003. “Kiprah Ibu Yoyoh tidak hanya diakui di Indonesia, tapi juga di level Internasional. Ini bukan hanya kehilangan besar bagi PKS, tapi juga bagi Indonesia dan juga para pejuang HAM di seluruh dunia” pungkas Kamal.

Jenazah Almarhumah Yoyoh Yusroh akan dishalatkan di Komplek DPR di Kalibata pukul 12.00 dan kemudian akan dimakamkan di Tangerang.

*http://kontakmediainfo.blogdetik.com/2011/05/22/

Ibunda Hidayat Nur Wahid Kemarin Wafat



PKSTapos, Yogyakarta - Ibunda politikus Partai Keadilan Sejahtera Hidayat Nur Wahid, Siti Rahayu, meninggal pada usia 76 tahun di Rumah Sakit Umum Pusat Sardjito Yogyakarta, 21 Mei 2012.

"Beliau meninggal dunia pada pukul 05.00 WIB," kata Abdul Hakim, kerabat dan pemimpin salah satu pondok pesantren di Prambanan, Sleman, Senin, 21 Mei 2012.

Ia menjelaskan ibunda Hidayat wafat karena penyakit stroke. Ibu dari calon Gubernur DKI Jakarta itu pun sudah menjalani perawatan beberapa hari di rumah sakit.

Ibu dari calon yang berpasangan dengan Didik J. Rachbini itu dimakamkan pada pukul 13.00 WIB kemarin. Beliau dimakamkan di Kebondalem Kidul, Prambanan, Klaten.

Hidayat merupakan calon Gubernur DKI Jakarta yang bakal berpasangan dengan Didik J. Rachbini. Hidayat pernah menjabat Presiden Partai Keadilan (PK), kemudian menjadi Ketua Umum Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Partai ini meraup suara yang cukup berarti dalam Pemilu 2004.

Pada pemilihan yang berlangsung demokratis dalam Sidang Paripurna V MPR, 6 Oktober 2004, Hidayat terpilih sebagai Ketua MPR periode 2004-2009. Jabatan ketua partai kemudian dilepas.

Demikian berita yang kami kutip media Tempo.co kemarin 21/5/2012. Dengan ini pula kami PKS Tapos Depok beserta kader dan simpatisan meyampaikan belasungkawa yang sebesar-besarnya atas wafatnya ibunda Ustadz Hidayat Nur Wahid. Semoga Allah SWT mengampuni dosa dan menerima amal ibunda. Allah lapangkan kubur ibunda dan semoga kesabaran, keteguhan selalu menyertai orang-orang tercinta ibunda.

Rabu, 04 April 2012

SBY yang Lamar PKS, SBY Pula yang Harus Ceraikannya

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Partai Keadilan Sejahtera (PKS) menilai Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) yang melamar PKS untuk masuk menjadi anggota Setgab Partai Koalisi. Karena itu, SBY juga yang harus 'menceraikan' PKS dan bukan orang lain yang justru 'menceraikan' PKS.
PKS enggan mempercayai apa yang disampaikan Sekretaris Setgab, Syarif Hasan, soal berakhirnya kontrak PKS dengan koalisi parpol pendukung pemerintah. PKS ingin mendengar langsung keputusan pemutusan tersebut dari Presiden SBY dan bukan dari yang lainnya.
"Akadnya dengan SBY bukan dengan Setgab," jelas Ketua DPP PKS, Aboe Bakar Al Habsyi, di gedung DPR Senayan, Jakarta, Rabu (4/3).
Selama ini, PKS bukan pula yang meminta masuk koalisi. PKS dilamar oleh SBY.

Aboe mengatakan Setgab muncul belakangan hari setelah ada persoalan dalam internal koalisi. Aboe mengibaratkan jika seorang anak dilamar seseorang kemudian dilanjutkan akad nikah, beberapa waktu kemudian pembantu mantu bilang mau mentalak anak tersebut.
"Apakah anda akan menanggapinya, kira-kira posisinya begitulah," jelasnya.

sumber: republika.co.id

Kamis, 09 Februari 2012

Ketua PIP PKS Pakistan Tutup Usia di Kampung Halaman



 

Innalillaahi wainna ilaihi raaji’uun. Ketua Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Pusat Informasi dan Pelayanan (PIP, sejenis cabang PKS di luar negeri) Pakistan Hifni Muzamminil Hasba (25 tahun) menghembuskan nafas terakhir di kampung halamannya di Metro, Lampung Sabtu (5/2/2012) pukul 02.30 dini hari lalu.

Almarhum yang mengalami sakit gagal ginjal sebelumnya kembali ke tanah air bulan November tahun lalu dengan maksud berobat di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM), Jakarta. “Jadi Adinda Hifni ini memang pulang karena mau berobat. Sejak berangkat sekolah ke Pakistan bulan Februari 2008 memang belum pernah pulang,” jelas Ketua DPD PKS Metro Yulianto yang mengaku sudah kenal almarhum sejak masih SMP.

Putra tertua Rektor Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah (STIT) Agus Salim Metro Qasthalani ini dirawat di RSCM selama kurang lebih sebulan, lalu ke RS Graha Husada Bandar Lampung dan dirawat di sini juga sekitar satu bulan. “Kemudian keluarga memutuskan untuk berobat jalan di Metro,” lanjut Yulianto.

Lajang yang memang lahir dan besar di lingkungan keluarga pendidik ini mendapatkan beasiswa Ilmu Syariah di International Islamic University Islamabad (IIUI) Pakistan pada tahun 2008. “Bulan Januari barusan ini seharusnya wisuda. Apa daya Allah berkehendak lain,” ujar Yulianto.

Hadir di rumah duka antara lain Wakil Ketua Bidang Hubungan Luar Negeri (BHLN) DPP PKS Rahmad HP, dan Ketua Wilayah Dakwah DPP PKS untuk Afrika dan Timur Tengah Izzuddin, juga paman almarhum Prof. Bahri Ghozali, mantan Rektor STAIN Metro yang kini menjadi guru besar di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Dinding facebook almarhum berakun Hifni Muzammil yang juga aktif di Pos Keadilan Peduli Umat (PKPU) ini dipenuhi doa dan ucapan dukacita atas kepergian almarhum. Misalnya dari Hasan Juhanis El-Palopy berikut, “tiada rasa sedih dan beban yang terbayang saat engkau Hifni Muzammil bicara denganku via telpon.. namun yang terdengar olehku hanyalah semangat yang mengebu-gebu, aku pun berharap kita bisa belajar bareng segera…namun…, smoga kita dipertemukan kelak di sisi Robbullalamin… aku banyak belajar darimu sobat… rahimakalloh rohmatan wasi’ah.”

Atau dari El Fathan yang menuliskan, “teringat akan senyum, canda dan tawa-mu ust Hifni Muzammil, sehabis kita mendistribusikan 15.000 liter air mineral kepada para pengungsian di tahun 2010 dengan suhu mencapai 48 derajat. Allahu yarhamuka wa yaghfiruka ya zamili,…amin.” []

sumber : pkslampung.org