Tampilkan postingan dengan label cagub. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cagub. Tampilkan semua postingan

Minggu, 24 Juni 2012

Hidayat Nurwahid: Tak Ada Alasan Jakarta Kalah dari Kota Besar Lainnya




JAKARTA (22/6) - Tidak kurang dari 1000 warga padati Jalan Petamburan I Kecamatan Tanah Abang menyambut kedatangan calon Gubernur DKI Jakarta, Hidayat Nurwahid, Jumat (22/6/2012) malam.

Setibanya di lokasi, Hidayat langsung disambut warga dengan shalawat dan teriakan takbir. Calon gubernur nomor urut 4 itu pun diajak menuju salah satu rumah warga untuk meresmikan rumah tersebut sebagai posko relawan pemenangan Hidayat+Didik.

Setelah peresmian, ribuan masyarakat yang didominasi kaum ibu tersebut berjalan mengikuti Hidayat menuju Masjid Ar-Rahman. Masyarakat Petamburan mengundang Hidayat untuk mengisi acara Isra Mi'raj yang bertepatan dengan Hari Ulang Tahun Jakarta ke-485 pada hari ini.

Hidayat mengulas makna kemenangan sebagai substansi dari Isra Mi'raj dan sejarah Jakarta.

Mantan ketua MPR yang juga alumni Pesantren Gontor tersebut menyampaikan bahwa Jakarta adalah kota yang memiliki sejarah luar biasa. Nama Jakarta diberikan oleh Falatehan atau Fatahillah, murid Sunan Gunung Jati atau Syarif Hidayatullah.

Hidayat menjelaskan nama Jakarta diambil dari dua kata, yakni Jaya dan Karta. Makna dua kata ini terinspirasi ayat Al Qur'an dalam Surat Al Fath yang berbunyi "Innaa fatahnaa laka fathammubiina".

Artinya, "Sesungguhnya Kami telah memberi kepadamu kemenangan yang nyata".

"Jadi, memang tidak ada alasan bagi Jakarta untuk kalah. Kalah dengan kota besar lain, kalah dengan polemiknya sendiri," jelas Hidayat.

Dalam rangkaian agenda tersebut, Hidayat juga mengunjungi sekretariat pimpinan cabang Muhammadiyah Petamburan yang berada tidak jauh dari Masjid Ar Rahman.

Sebelum mengakhiri agenda silaturrahimnya, Hidayat pun mendapat suntikan semangat dan doa dukungan dari para tokoh Muhammadiyah Petamburan.

Hadir pada saat itu tokoh penasehat Abdurrahim, Hamsar Hamidi, Ahmadi, Noshri serta Edi selaku Ketua Pimpinan Cabang Muhammadiyah Petamburan. Mereka memberika dukungan untuk kesuksesan langkah Hidayat menuju kepemimpinan DKI Jakarta.

*hidayatdidik.net

Kamis, 07 Juni 2012

Relawannya Ditodong Pistol, Giliran Hidayat Diberi Golok

Pak Jain, guru silat asal Banten menyimbolkan dukungannya untuk Hidayat dengan menyerahkan sebuah golok (foto hidayatdidiknet )
PKSTapos, Jakarta - Setelah beberapa waktu lalu publik dikejutkan dengan aksi intimidasi yang dilakukan oknum aparat TNI terhadap Tim Relawan Hidayat-Didik yang merupakan calon gubernur yang diusung Partai Keadilan Sejahtera (baca Sikap Bijak PKS Saat Ditodong Pistol) , giliran pasangan Cagub-Cawagub Hidayat Nur Wahid dan Didik Rachbini diberi golok oleh jawara Banten. Sejumlah tokoh Banten hadir dalam deklarasi dukungan bagi pasangan calon gubernur dari PKS tersebut.

Pak Jain, guru silat asal Banten menyimbolkan dukungannya untuk Hidayat dengan menyerahkan sebuah golok. "Dalam niat membereskan Jakarta jelas butuh semangat dan hal itu jelas diperlihatkan oleh Pak Hidayat," kata salah satu jawara Banten tersebut, Rabu (6/6).

Hidayat mengatakan, Jakarta memiliki keterkaitan yang kuat dengan Banten, ibarat badan, bila Jakarta sakit maka Banten juga akan turut merasakan sakit dan begitu sebaliknya. "Bila gubernur tidak memiliki kemampuan berkomunikasi dengan pimpinan yang lain, maka hanya akan mengecilkan Jakarta itu sendiri,"

Menurut Hidayat, Jakarta masih mengalami ketertinggalan dengan kota besar di negara lain seperti Kuala Lumpur atau Singapura. Sebagai kota yang diunggulkan, Jakarta harusnya mampu menunjukkan kebesarannya.

Anggota DPR RI asal Banten, KH Dr Jazuli Juwaini mengatakan, Jakarta sudah memiliki begitu banyak orang pintar dan mengaku ahli. "Permasalahannya adalah belum ada figur yang benar-benar mampu memimpin dan mengarahkan potensi tersebut," katanya.
 

Minggu, 03 Juni 2012

Hidayat Nurwahid Resmikan Rumah Keluarga Indonesia


Hidayat Nurwahid Resmikan Rumah Keluarga Indonesia

 PKSTapos, Jakarta - Calon Gubernur DKI Hidayat Nurwahid meresmikan Rumah Keluarga Indonesia di kawasan Cilandak, Jakarta Selatan. Acara tersebut merupakan bagian dari rangkaian peringatan Hari Kebangkitan Nasional yang digelar PKS.

Acara diawali dengan jalan sehat yang diikuti oleh 200 peserta yang berasal dari kader PKS dan warga sekitar.

"Kamijuga melakukan acara temu tokoh masyarakat dan kemudian kegiatan launching," ujar Ketua DPC PKS Cilandak Syahfrullah kepada Tribun di lokasi, Jakarta, Minggu (3/6/2012).

Syahfrullah mengatakan Rumah Keluarga Indonesia akan memberikan pendidikan kader dan masyarakat mengenai pentingnya keluarga. Selain itu, PKS juga memberikan pengobatan gratis kepada warga sekitar.

"Kita berikan layanan cek gula darah gratis," imbuhnya.

Hidayat Nurwahid yang memberikan sambutan menyampaikan harapannya untuk memberikan Jakarta yang sejahtera kepada warga ibukota.

"Kita tidak mau Jakarta yang gini-gini saja," imbuh Hidayat yang diusung PKS.

Hidayat Nur Wahid kemudian memberikan bantuan kepada dua anak yatim untuk biaya pendidikan. Hidayat kemudian meninggalkan acara menuju Tanah Abang untuk meresmikan posko pemenangan Hidayat-Didik.


Jumat, 01 Juni 2012

Hidayat: Laut, Pantai, Sungai, Danau Milik Publik


 Headline

PKSTapos__Jakarta, Calon Gubernur DKI Jakarta Hidayat Nur Wahid mendukung jika pantai Ancol bebas biaya. Dengan begitu semua lapisan masyarakat dapat menikmatinya.

"Iya memang mestinya di dunia mana pun yang namanya laut, pantai, sungai dan danau itu adalah milik negara dan pasti juga milik publik yang harus bisa diakses dengan gratis oleh publik," ujar Hidayat kepada INILAH.COM.

Dirinya menyayangkan di negara Indonesia pada umumnya bukan hanya di Ancol, banyak tempat di Indonesia yang menjadikan pantai atau laut sebagai komersialisasi, di kavling untuk hotel, villa dan sebagainya. "Hingga akhirnya menjadi areal bisnis, padahal kan mereka itu tidak pernah membeli pantainya tetapi tanahnya yang dibeli. Saya sangat setuju bahwa yang namanya laut itu harus bisa diakses oleh publik," terangnya.

Oleh karena itu, lanjut Hidayat, dirinya akan melakukan pengkajian terhadap keputusan-keputusan yang ada terkait dengan PD Ancol, mengkaji dari semua sisi tentang bagaimana kemarin ceritanya, persoalannya apa harus dikenakan biaya.

"Jadi kata kuncinya itu kita harus mengembangkan lebih banyak lagi tempat rekreasi bagi warga Jakarta, pantai yang bisa diakses kemudian setu-setu yang kita harus kaji juga termasuk ruang interaksi di setiap kelurahan, GOR yang berfungsi sebagai olah raga gratis itu harus kita maksimalkan termasuk pantai-pantai mudah-mudahan bisa diakses oleh warga. Pantai Ancol kemudian bisa diakses dengan publik, karena Ancol itu kan ada dua jadi perlu dikaji lagi," papar Hidayat.

Sabtu, 26 Mei 2012

Hidayat Bahas Solusi Banjir dan Macet dengan Walikota Depok


 

PKSTapos__ JAKARTA, Calon gubernur DKI Jakarta yang diusung Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Hidayat Nurwahid menemui Walikota Depok Nurmahmudi Ismail di Balai Kota Depok, Jawa Barat, Jumat (25/5/2012).

Dalam pertemuan tersebut kedua tokoh PKS itu membicarakan peluang kerjasama antardaerah bertetangga ini dalam menyelesaikan berbagai persoalan bersama.
Di antara masalah yang dibicarakan kedua tokoh ini adalah solusi untuk mengatasi banjir dan kemacetan di Jakarta.

"Untuk mengurangi pengguna kendaraan pribadi yang berasal dari Depok, mungkinkah ada busway yang rutenya sampai ke Depok," ujar Hidayat dalam pertemuan itu.

Menanggapi kemungkinan masuknya bus Transjakarta ke Depok, Nurmahmudi menyatakan infrastruktur jalan di Depok belum memadai.

"Jalan-jalan di Depok tidak siap untuk dilewati busway," kata Nurmahmudi yang juga mantan Menteri Kehutanan dan Perkebunan.

Untuk mengurangi kemacetan dengan menekan jumlah mobil yang masuk ke Jakarta, menurut Nurmahmudi, kebijakan yang memungkinkan adalah mengoptimalkan operasional kereta rel listrik (KRL).

Sedangkan untuk mengurangi banjir di Jakarta, hal yang bisa dilakukan kedua daerah bertetangga ini adalah memanfaatkan situ-situ,terutama yang ada di Depok.

"Situ-situ itu bisa menampung air agar tidak langsung masuk ke sungai," kata Said Kholik, Asisten Tata Praja Depok saat mendampingi Walikota Depok.

Said menambahkan, Sungai Ciliwung letaknya rendah sehingga tidak bisa dialirkan ke tempat lain. Oleh karena itu, yang perlu dilakukan adalah mengurangi volume air yang masuk ke Sungai Ciliwung.
Hidayat menambahkan, situ-situ yang ada bisa dimanfaatkan untuk rekreasi sehingga menambah nilai guna situ.

"Situ-situ tersebut juga bisa digunakan untuk rekreasi, untuk pemancingan misalnya," pungkas Hidayat. 

Kamis, 17 Mei 2012

Menimbang Para (Calon) Pengganti Foke

PKSTapos__ Jakarta-- Pemilukada DKI Jakarta generasi kedua tahun ini dapat dipastikan lebih semarak daripada Pemilukada 2007 silam. Selain jumlah pasangan yang meningkat drastis dari dua menjadi enam pasang, posisi Fauzi Bowo saat ini juga ‘diancam’ oleh dua kepala daerah lain yang masih aktif menjabat.

Pertanyaan pentingnya, apakah Foke dijamin akan lolos melenggang ke balaikota 11 juli nanti? Kemungkinan besar tidak. Ada dua alasan utama.

Pertama, UU nomor 29 tahun 2007 mensyaratkan pasangan calon gubernur dan wakil gubernur wajib memperoleh suara di atas 50%. Perhitungan matematika sederhana menunjukkan sangat berat bagi seorang pasangan untuk merebut separuh lebih suara dari lima kandidat lainnya dalam satu putaran.

Kedua, faktor demografis. Hanya di Jakarta, porsi kelas menengah di tingkat provinsi mencapai hampir 50%. Data BPS terkini menunjukkan, penduduk Jakarta yang berpendidikan tamatan SMU mendekati 36%, sementara tamatan Perguruan Tinggi berada pada kisaran 14% dari total penduduk. Lalu, berbekal definisi bahwa kelompok menengah ialah mereka yang memiliki pengeluaran lebih dari satu juta rupiah dalam sebulan, ada 46% penduduk yang masuk dalam kategori ini.

Sudah menjadi ‘common wisdom’, kelompok menengah adalah komunitas pemilih kritis dan terdidik. Bila proposi pemilih ini melihat ada tawaran yang lebih menarik dari 5 kandidat lainnya, mereka tidak segan untuk mengalihkan suara dari kandidat petahana.

Tiga unsur pemenangan pemilukada

Lantas, variabel apakah yang dibutuhkan oleh kandidat penantang untuk menggeser ‘incumbent’? Setidaknya ada tiga variabel utama. Kekuatan figur, kekuatan mesin pemenangan, dan kekuatan finansial.

Kekuatan figur bukan hanya merujuk pada tingkat keterkenalan dan kesukaan publik kepada kandidat. Kekuatan figur yang dimaksud, lebih pada kompetensi yang tercermin dari rekam jejak kepemimpian kandidat. Dalam kategori ini, ada tiga kandidat yang bisa dinilai sangat kuat. Hidayat-Didik, Alex Nurdin-Nono Sampono dan Jokowi-Ahok.

Hidayat Nurwahid dapat dikatakan sebagai tokoh pemimpin nasional, karena pernah menjadi Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat periode 2004-2009. Alex Nurdin dan Joko Widodo juga tidak bisa dipandang sebelah mata karena memiliki pengalaman ‘eksekutif’ yang cukup lama di tingkat kabupaten kota atau provinsi.

Dalam hal kekuatan mesin pemenangan yang direpresentasikan oleh likuiditas dukungan kader dan relawan secara territorial, kandidat Faisal-Biem, Hidayat-Didik dan Hendardji-Riza dapat dikategorikan kuat. Lolosnya Faisal-Biem dan Hendardji-Riza secara mandiri tanpa dukungan partai politik, menunjukkan bahwa kedua kandidat jalur independen ini memiliki relawan yang mampu bergerilya secara riil memobilisasi dukungan hingga tingkat kelurahan.

Sementara, mesin pemenangan Hidayat-Didik yang resmi diusung Partai Keadilan Sejahtera (PKS)juga telah teruji oleh sejarah. Jumlah kader yang sangat banyak dan solid di ibukota, pernah membuat gabungan partai pendukung Fauzi-Prijanto pada pemilukada 2007 lalu kerepotan. Koalisi puluhan partai pengusung Foke-Prijanto yang memiliki gabungan suara 77,68% suara, ternyata hanya mampu mengumpulkan 57% suara pada pemilukada. Sementara Adang-Dani yang didukung oleh partai tunggal PKS saat itu tak disangka-sangka mampu meraih 42.2% suara, jauh di atas perolehan resmi PKS sebagai partai.

Di antara ketiga variabel di atas, kekuatan finansial-lah yang belum jelas tergambar. Kompetisi dua bulan ke depan yang akan menunjukkan kualitas daya dukung ekonomi para kandidat. Kekuatan ini bukan angka rupiah yang resmi dilaporkan oleh setiap kandidat ke KPUD. Secara riil kekuatan finansial, akan ditunjukkan oleh kemampuan setiap pasangan untuk melengkapi atribut tim sukses, frekuensi iklan di media massa dan gebyarnya event kampanye terbuka.

Tentu saja, pemenang pemilukada dua bulan mendatang tidak bisa dipastikan sekarang. Tetapi, bukan isapan jempol rasanya bila melihat kekuatan para penantang, peluang Foke untuk terpilih kembali dalam satu putaran tidak begitu cerah.

*) Rico Marbun
Peneliti The Future Institute, Staf Pengajar Sekolah Tinggi Ilmu Kepolisian & Universitas Paramadina

*kolom detiknews 16/05/2012

Kamis, 10 Mei 2012

Timses Hidayat Pastikan Tak Ada Politik Uang

Ilustrasi

PKSTapos__ (10/05/2012) JAKARTA - Tim sukses pasangan bakal calon Gubernur DKI Jakarta Hidayat Nur Wahid-Didik J Rachbini, memastikan tidak akan menggunakan politik uang dalam upaya pemenangan di Pilkada DKI pada Juli 2012 mendatang.

"Kita pastikan, tim kita tidak akan pakai cara politik uang," tegas tim pemenangan Hidayat-Didik, Triwisaksana kepada Okezone, Kamis (10/5/2012).

Meski menegaskan tidak akan menggunakan poltik uang, anggota DPRD DKI Jakarta itu tidak menampik adanya politik uang saat Pemilukada berlangsung. "Politik uang itu cakupannya luas, dan sudah pasti Pemilukada itu rawan politik uang," ujar politikus Partai Keadilan Sejahtera itu.

Jika pihaknya kedapatan melakukan politik uang atau kampanye hitam, dia mengaku siap ditindak sesuai peraturan dan hukum yang berlaku. "Kubu lain juga kalau kedapatan harus ditindak dan diproses sesuai hukum," jelasnya.

Menurutnya, pendekatan kepada masyarakat dengan cara bersosialisi merupakan cara ampuh untuk menyampaikan program dan komitmen pasangan calon dalam memimpin Jakarta nantinya. "Kita bersosialisasi saja ke masyarakat," pungkasnya.

Sebelumnya diberitakan, panitia pengawas Pemilu (Panwaslu) DKI Jakarta menyebut adanya indikasi politik uang dalam Pemilukada DKI Jakarta. Pasalnya, hingga kini Panwaslu belum menerima berkas keenam bakal calon gubernur dan wakil gubernur DKI dari KPUD Jakarta.


*okezone 10/05/2012

Rabu, 09 Mei 2012

Terkait Cagub Jabar, Mahfudz Siddiq: Yance-Anna Bisa Diseret ke Proses Hukum


 

PKSTapos__ (9/05/2012) Pencalonan mantan bupati Indramayu Irianto MS Syafiuddin (Yance) untuk pemilihan guberbur Jawa Barat makin marak. Namun, andil istrinya Anna Sophanah yang saat ini menjabat Bupati Indramayu menjadi ganjalan serius bagi keduanya. Sebab, Yance diduga memanfaatkan posisi Anna untuk mendukung penuh pencalonannya menjadi Gubernur Jawa Barat 2013. 

Hal itu diungkapkan Ketua Komisi I DPR  Dapil VIII Jawa Barat (meliputi Kabupaten Indramayu, Kabupaten Cirebon dan Kotamadya Cirebon), Mahfudz Siddiq setelah melakukan kunjungan kerja ke Indramayu beberapa hari yang lalu. 

"Bupati Anna tetap di bawah bayang-bayang Yance. Jika terbukti Yance memanfaatkan posisi istrinya untuk kepentingan-kepentingan pencalonannya sebagai Gubernur Jawa Barat maka ini bisa jadi skandal besar yang akan menyeret keduanya ke proses hukum," ujar Mahfudz Siddiq kepada PelitaOnline, Rabu (9/5). 

Temuan Mahfudz, Yance, sapaan akrab Irianto MS Syafiuddin, yang juga sebagai Ketua DPD Golkar Jawa Barat, diduga telah melakukan sosialisasi dengan memanfaatkan pangkasan gaji para PNS di Indramayu. Alat sosialisasi Yance, antara lain mug bergambar dirinya, ramai dijumpai di wilayah pantai utara seperti di Kabupaten Subang.

Selain itu, Mahfudz juga melihat sosok Yance, meski tak lagi menjabat sebagai bupati Indramayu, namun karena istrinya, Anna Sophanah menjabat sebagai bupati Indramayu saat ini, dinilai masih terus memobilisasi kekuatan-kekuatan birokrasi. 

Sehingga, lanjutnya, dari sisi pembangunan di Indramayu sendiri, sejak Yance menjabat menjadi bupati selama dua periode (2000-2005, 2005-2010) ditambah saat ini istrinya menjabat (2010-2015), pembangunan Indramayu dinilai tidak ada kemajuan dan bahkan menjadi terbengkalai. 

"Sampai saat ini tidak ada perubahan apa-apa di Indramayu dari sisi program pembangunan. Jajaran birokrasi dan PNS tetap sering dimobilisasi untuk kepentingan politik Yance, eks bupati (Indramayu)," jelasnya. 

Terkait atas beberapa kali Indramayu mendapatkan penghargaan, Mahfudz Siddiq menanggapi hal itu tidak berpengaruh terhadap perkembangan yang ada di Indramayu.

"Lihat saja Indramayu sekarang bagaimana,"tandasnya.

*Pelita Online 9/05/2012